CERAMAH JUMAT: PUASA MENUJU TAQWA
CERAMAH JUMAT: PUASA MENUJU TAQWA
Masjid Nurul Iman, Blok M Lantai 7– 21 Maret 2025 Jakarta
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan pembentukan karakter, bulan penyucian jiwa, bulan di mana kita ditempa untuk menjadi insan yang bertakwa. Allah mewajibkan puasa agar kita mencapai ketakwaan—satu derajat tinggi di sisi-Nya.
Orang dikatakan bertakwa ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Bukan hanya nafsu makan dan minum, tetapi juga nafsu amarah, nafsu keduniawian, dan nafsu syahwat. Rasulullah bersabda:
"Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ciri-ciri Orang Bertakwa
Mampu Memaafkan
Takwa tidak hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Orang bertakwa tidak mendendam, melainkan mudah memaafkan. Allah berfirman: "...dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134)Rajin Beristighfar dan Menyadari Kesalahan
Tak ada manusia yang sempurna. Namun, orang bertakwa adalah mereka yang segera menyadari kesalahan, beristighfar, dan bertaubat. Istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan dosa yang tulus dan tekad untuk tidak mengulanginya.Menginfakkan Harta dalam Setiap Kondisi
Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk bersedekah. Dalam kondisi lapang maupun sempit, ia tetap menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sedekah adalah bukti iman, dan di bulan Ramadhan, pahala sedekah dilipatgandakan.
Puasa Adalah Ibadah Abstrak
Puasa adalah ibadah yang tidak tampak. Hanya Allah dan hamba-Nya yang mengetahui kadar keikhlasan seseorang dalam menjalankannya. Rasulullah bersabda: "Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Menyongsong Malam Lailatul Qadr
Allah mengabadikan kemuliaan Lailatul Qadr dalam Al-Quran: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Rasulullah mengajarkan kita untuk mencari Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau semakin giat dalam ibadah, menjauhi istri-istrinya, dan melakukan i'tikaf di masjid. Namun, hakikatnya, Lailatul Qadr bisa saja datang di malam pertama Ramadhan atau kapan saja sesuai kehendak Allah. Oleh karena itu, hendaknya kita mengisi seluruh bulan Ramadhan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Kegiatan Masjid Menyambut Lailatul Qadr
Memperbanyak Tilawah Quran – Malam Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya Al-Quran. Maka, tidak ada amal yang lebih baik selain membaca dan menghayati maknanya.
Bersedekah dan Berinfak – Mengeluarkan harta di malam penuh keberkahan akan dilipatgandakan pahalanya.
Meningkatkan I’tikaf – Duduk berdiam diri di masjid, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah
Memperbanyak Doa – Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, jika aku menjumpai malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca?" Beliau menjawab: "Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai pengampunan, maka ampunilah aku)."
Penutup
Jamaah sekalian, Ramadhan adalah momentum besar untuk meraih ketakwaan. Mari manfaatkan setiap detiknya dengan amal kebaikan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr dan keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci serta penuh keberkahan. Aamiin.(RORIE)



