Dapur Umum Muhammadiyah: Bara Solidaritas di Tengah
Dapur Umum Muhammadiyah: Bara Solidaritas di Tengah Banjir Denpasar
Denpasar, 11 September 2025 – Saat air bah merendam pemukiman Denpasar, satu per satu rumah tangga terputus dari dapurnya. Namun, di sebuah sudut kota, tepatnya di Jl. Sebelanga 80 Denpasar, bara kompor tak pernah padam. Asap dari panci besar dan wajan penggorengan justru menjelma cahaya harapan bagi ratusan warga terdampak banjir.
Itulah Dapur Umum Muhammadiyah, lahir dari kolaborasi tiga amal usaha pendidikan: SMP Muhammadiyah 1, SMA Muhammadiyah 1, dan SMK Muhammadiyah Denpasar. Di bawah koordinasi Melly, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 1, dan dengan dukungan penuh Edi Suprayitno, Ketua MDMC Muhammadiyah Bali, dapur ini bergerak seperti detak jantung kemanusiaan.
Kebersamaan yang Menyatu dalam Asa
Setiap pagi, para guru bersama relawan muda menyiapkan bahan makanan, mencuci beras, memotong sayur, dan menanak nasi dengan wajah penuh semangat. Keringat mereka jatuh bukan sekadar karena api dapur, melainkan karena cinta pada kemanusiaan.
Dari tangan-tangan ikhlas itu, lahirlah 300 hingga 400 porsi makan siang dan makan malam setiap harinya. Nasi bungkus sederhana, tetapi di dalamnya terlipat doa, kasih, dan solidaritas. Makanan itu segera didistribusikan ke posko-posko pengungsian dan rumah-rumah warga yang masih terkepung genangan.
Gerakan Ikhlas, Cahaya di Tengah Bencana
“Ini adalah panggilan nurani. Selama saudara-saudara kita masih berjuang melawan banjir, dapur ini tidak akan berhenti menyala,” ujar Edi Suprayitno, dengan mata berbinar meski tubuhnya letih.
Suara denting panci, aroma masakan, dan senyum para relawan menjelma menjadi pesan yang lebih lantang daripada seruan apa pun: bahwa bencana tidak mampu meruntuhkan rasa persaudaraan.
Harapan di Atas Piring Sederhana
Denpasar memang masih berduka, tetapi di setiap piring nasi dari dapur umum ini, ada secercah harapan bahwa esok akan lebih baik. Ada keyakinan bahwa solidaritas yang tulus akan selalu lebih kuat daripada air yang meluap.
Di balik banjir yang merendam, Denpasar menemukan kembali jati dirinya: kota dengan hati yang menyala oleh kepedulian. (RAYD)



