Dari Banjir ke Berkah: Simfoni Kemanusiaan di Acara Recovery Pascabencana Bali
Dari Banjir ke Berkah: Simfoni Kemanusiaan di Acara Recovery Pascabencana Bali
Oleh Redaksi Suara Umat – Denpasar, Oktober 2025
Langit Denpasar pagi itu memancarkan cahaya lembut. Hujan yang dulu menenggelamkan kini telah reda, menyisakan embun di dedaunan dan harapan di hati manusia. Di halaman sederhana RM. Bundo Kanduang, tempat Posko Bersama Peduli Bencana Banjir bernaung selama berminggu-minggu, berkumpul wajah-wajah yang pernah letih namun kini memantulkan semangat baru.
Inilah hari istimewa — acara recovery pascabencana, bukan untuk menutup perjalanan, tapi untuk menandai babak lanjutan dari perjuangan kemanusiaan.
Nada Awal: Menyanyikan Indonesia Raya
Tepat pukul 09.30, acara dimulai. Suara pembawa acara memecah kesunyian dengan sapaan hangat. Tak lama, hadirin berdiri tegak menyanyikan lagu Indonesia Raya, dipimpin oleh H. Saleh.
Nada demi nada menggema, menggugah rasa cinta tanah air di antara reruntuhan kenangan banjir.
Lalu, doa yang khusyuk dipanjatkan oleh H. Roichan Mukhlis. Suaranya bergetar, seolah setiap kata mengalirkan rasa syukur atas nikmat keselamatan dan kekuatan untuk bangkit kembali.
Ruang Kecil, Hati Besar: Konseling Anak-anak
Sebelum acara utama, anak-anak yang menjadi korban langsung bencana digiring lembut menuju area khusus — teras kecil Hotel Ratu, tempat dr. Rini Trisnowati, kandidat spesialis SPKJ dari Universitas Udayana, memandu sesi konseling.
Ia tidak datang dengan teori, melainkan dengan hati. Bersama Bu Wati dan guru-guru dari Madrasah Bina Ihsan Mulia, anak-anak diajak berdialog, bermain peran, mengekspresikan tawa dan air mata.
Dalam suasana yang tanpa mikrofon, tanpa panggung megah, justru tumbuh keindahan yang hakiki: kejujuran anak-anak dalam menyembuhkan dirinya sendiri.
Laporan Posko: Dari Krisis Menuju Kolaborasi
Tepat pukul 10.00, Koordinator Posko Bersama, H. Imam Asrorie, melangkah maju. Dalam suaranya yang teduh, ia melaporkan perjalanan panjang Posko Bersama — yang lahir dari percakapan sederhana pascabanjir antara dirinya dan Ahmad Khanafi, Sekretaris ICMI Orwil Bali.
Didampingi lembaga-lembaga kolaboratif —
H. Junaedi (FPSI), H. Henk Kusumawardana (LANTIPDA Indonesia), Hj. Dewi Sinaryati SE (MTP IPHI), Hj. Sri Widiastuti (Wanita Islam Provinsi Bali), H. Muslim (RM Bundo Kanduang), dan Hj. Nining (Media Suara Umat) — beliau menegaskan:
“Posko ini bukan ditutup, tapi bertransformasi menjadi jembatan kasih yang lebih luas. Dari relawan, menuju sinergi bersama pemerintah dan SAR.”
Tinta dan Tangan: Penandatanganan MOU
Pukul 10.10 menjadi momen bersejarah.
Arjuna Rescue 115, diwakili oleh Bpk. Brama Budianto, SH, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama tujuh lembaga kemasyarakatan peduli kemanusiaan.
Kesepahaman ini menjadi penanda bahwa semangat gotong royong tak berhenti pada bencana kali ini saja, melainkan akan terus mengalir di setiap krisis yang mungkin datang.
Usai penandatanganan, H. Imam Asrorie menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Brama Budianto, sebagai simbol penghargaan bagi para pejuang kemanusiaan di garis depan.
Sambutan dan Suara Hati
Acara berlanjut dengan sambutan dari tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
Kemudian, mewakili Kesbangpol Provinsi Bali, hadir I Gede Aditiatna, Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi Sosial dan Ormas. Dalam pesannya, ia memuji kolaborasi lintas iman dan profesi yang terjadi di Posko Bersama ini — sebagai teladan solidaritas sejati di Bali.
Cahaya Psikologi dan Motivasi Masyarakat
Sesi berikutnya menghadirkan Hj. Arbaiyah, S.Spi, Psikolog, yang membawakan sosialisasi konseling masyarakat terdampak banjir. Dengan pendekatan empatik, beliau membantu warga memahami pentingnya menjaga kesehatan mental pascatrauma.
Tak lama kemudian, I Komang Kusumaedi, Koordinator PYP Kesbangpol Bali, memberikan motivasi yang membakar semangat masyarakat untuk bangkit. “Bencana adalah ujian, bukan hukuman. Dari sini, kita belajar untuk lebih kuat dan bersatu,” ujarnya tegas, disambut tepuk tangan panjang.
Keduanya menerima sertifikat penghargaan dari koordinator posko, sebagai ucapan terima kasih atas dedikasi mereka.
Apresiasi untuk Donatur dan Lembaga Kolaboratif
Menjelang tengah hari, tibalah acara yang paling ditunggu: ucapan terima kasih dan penyerahan sertifikat penghargaan bagi para donatur serta lembaga kolaboratif.
Nama-nama yang disebut menggema hangat:
Dr. Zakaria Adam, SPOG; Dr. Dadang Hermawan; PT Brilian Multi Kreasi Indonesia EO; H. Hendra Bekti; H. Rully Soripada (Sarana Dewata); MTP IPHI Provinsi Bali; Hj. Dewi Sinaryati SE; H. Henk Kusumawardana; Hj. Sri Widiastuti; H. Junaedi (FPSI); Hj. Nining (Suara Umat); Hj. Heni Lesmanawati (Bina Ihsan Mulia); H. Imam Asrorie (Lazismi ICMI Bali); dan H. Muslim (RM Bundo Kanduang).
Mereka adalah tangan-tangan yang menyalurkan kasih.
Sebagian telah memberi dana, sebagian tenaga, sebagian waktu — dan semuanya memberikan hati.
Penutup yang Hangat: Ramah Tamah dan Doa
Pukul 12.00 siang, suasana berubah menjadi lebih cair. Ramah tamah berlangsung sederhana. Para peserta, donatur, dan relawan duduk bersama, menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, H. Muslim dengan penuh keakraban.
Tak ada sekat antara pemberi dan penerima. Semua setara di hadapan kasih.
Acara ditutup oleh pembawa acara dengan ucapan syukur dan harapan agar semangat Posko Bersama terus hidup, mengalir bersama kebaikan dan doa masyarakat Bali.
Akhir yang Bukan Akhir
Hari itu, bukan hanya tentang pemulihan pascabencana.
Ia adalah tentang manusia — yang belajar mencintai sesamanya melalui air mata, tawa, dan kerja sama.
Dan ketika senja turun di langit Denpasar, terdengar suara seorang anak kecil menyanyi lirih:
“Hujan turun membawa rahmat… bukan lagi bencana.”
Begitulah, dari genangan lahir kebaikan, dari kesedihan tumbuh kasih.
Posko Bersama tidak berakhir hari ini. Ia hanya berganti bentuk — menjadi arus kebaikan yang akan terus mengalir, menuju tangan-tangan yang membutuhkan.



