Detail Artikel

Dari Bawang ke Kenangan: Spirit Trunyan yang Mengilhami LazisMi ICMI di Silaknas 2025

Dari Bawang ke Kenangan: Spirit Trunyan yang Mengilhami LazisMi ICMI di Silaknas 2025

 Bali, pulau yang harum oleh tradisi dan sejarah, tersimpan sebuah kisah lama yang kerap dibacakan ulang oleh para tetua desa. Pada era 1970-an, ketika hiruk-pikuk pariwisata belum sepadat hari ini, masyarakat dari sebuah desa terpencil di kaki Gunung Batur turun ke kota membawa hasil bumi: bawang merah dan bawang putih. Mereka menawarkannya kepada warga kota, menukar dengan segenggam beras, atau sekeping uang, sebagai bekal hidup.


Namun alih-alih dipandang sebagai transaksi ekonomi, masyarakat kota menafsirkan aktivitas itu sebagai praktik mengemis. Cara berpakaian yang sederhana, tutur yang lirih, dan metode tawar-menawar yang tidak lazim, membentuk stigma yang melekat bertahun-tahun. Desa itu bernama Trunyan, kini dikenal dunia karena tradisinya yang unik dan panorama alamnya yang agung.


Jika hari ini kita melihat ulang peristiwa itu dengan growth mindset, sesungguhnya masyarakat Trunyan tidak sedang mengemis. Mereka sedang bertransaksi, menjalankan bentuk paling purba dari ekonomi lokal: barter. Bawang merah dan putih ditukar dengan sumber pangan yang mereka butuhkan—sama-sama bernilai, sama-sama terhormat.


Trunyan: Dari Stigma ke Destinasi Dunia

Seiring berkembangnya Bali menjadi magnet pariwisata global, nasib masyarakat Trunyan berubah pelan namun pasti. Desa yang dahulu dipandang sebelah mata kini menjadi destinasi budaya yang dicari wisatawan mancanegara. “Taru Menyan”—pohon harum yang menjadi asal nama Trunyan—menjadi simbol transformasi: wangi, unik, dan penuh daya pikat.


Kini masyarakat Trunyan hidup sejahtera. Rumah-rumah kokoh berdiri, kapal-kapal kecil menepi di bibir danau, dan tak sedikit warganya yang telah memiliki kendaraan pribadi. Stigma masa lalu terkubur oleh martabat yang berhasil mereka bangun melalui kearifan lokal dan ketekunan.


Inspirasi bagi LazisMi ICMI: Menukar Kebaikan dengan Kenangan

Kisah Trunyan menjadi inspirasi tersendiri bagi LazisMi ICMI, khususnya dalam penyelenggaraan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI 2025 yang penuh energi intelektual dan spiritual. Tergerak oleh filosofi “tukar-menukar yang bermartabat”, H. Imam Asrorie, motor penggerak program LazisMi, menggagas sebuah pendekatan baru dalam penggalangan kedermawanan.

Alih-alih meminta donasi secara konvensional, LazisMi menawarkan cinderamata—Topi Silaknas, Topi ICMI, dan Topi LazisMi—untuk ditukar dengan infak sukarela para peserta Silaknas.


Sebuah bentuk ekonomi kebaikan:

“Kami tidak meminta uang. Kami menukar kedermawanan dengan kenangan,” ujar Imam Asrorie.


Topi-topi itu bukan sekadar penutup kepala; ia menjadi simbol partisipasi, penghargaan, sekaligus pengikat memori dalam perhelatan akbar umat cendekia tersebut. Seperti bawang merah dan putih dari Trunyan, cinderamata tersebut menjembatani nilai, bukan memohon belas kasihan.


Transaksi Kebaikan yang Mencerahkan

Pada akhirnya, apa yang dihadirkan LazisMi bukan sekadar model penggalangan dana, tetapi sebuah filosofi. Bahwa setiap orang datang dengan martabat; bahwa memberi tidak harus dimulai dari permintaan, namun dari pertukaran nilai yang saling mengangkat.


Seperti masyarakat Trunyan yang kini tegak di pangkuan Danau Batur, kedermawanan para peserta Silaknas pun hadir tanpa paksaan, tanpa stigma, tanpa kesan inferioritas. Ia lahir sebagai bentuk kesalingan—sebuah barter makna: kenangan ditukar dengan kepedulian, simbol ditukar dengan amal.


Dari Trunyan untuk Indonesia

Dalam suasana Silaknas yang mempertemukan cendekiawan, pemimpin bangsa, akademisi, dan tokoh lintas sektor, narasi ini menguatkan satu pesan penting:

transaksi kebaikan selalu lebih kuat daripada permohonan yang rendah hati.


Seperti Trunyan yang bangkit dari stigma, LazisMi ICMI mengajak umat untuk memaknai ulang cara memberi dan menerima: dengan kesetaraan, harga diri, dan kebijaksanaan.

Dan dari Bali, pulau tempat banyak kisah berawal dan kembali, spirit itu memancar ke seluruh Indonesia.(RAYD) 

Donasi PT MEDIA SUARA UMAT.

Bank BSI.732671296PT7

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'