Dari Ember ke Harapan: H. Saleh dan Gerakan Budikdamber untuk Desa
Ember Prototipe, Harapan Permanen: Hj. Sri Subekti Luncurkan Budikdamber Desa
Desa yang dulu hanya dikenal lewat jalan kampung berdebu dan sawah terbentang, kini menyaksikan sebuah perubahan kecil yang bisa berbuah besar. Di sebuah pendopo desa, ember plastik besar dipenuhi air jernih dan bibit lele berenang lincah — bukan sebagai atraksi sesaat, melainkan prototipe sebuah visi desa mandiri. Inisiatif ini diprakarsai oleh notaris ternama di Bali, Hj. Sri Subekti, S.H., penggagas acara dan pewujud sebuah hibah prototipe budikdamber untuk masyarakat desa tersebut.
Prototipe Sebagai Langkah Awal
Dalam pelatihan budidaya ikan lele menggunakan ember plastik besar, Hj. Sri Subekti menegaskan bahwa ember dan bibit yang diberikan kini belum dalam skala penuh bantuan, melainkan sebagai prototipe awal. “Ini sumbangan awal agar masyarakat desa bisa mempelajari metode, merasakan proses, memahami tantangan dan potensi budidaya ini. Bantuan penuh akan menyusul setelah evaluasi dan kesiapan,” ungkapnya kepada komunitas dan peserta pelatihan.
Prototipe ini meliputi beberapa ember besar, bibit ikan lele, pakan dasar, serta pelatihan teknis mengenai pemeliharaan, kualitas air, pembersihan, dan panen. Meskipun dalam skala kecil, semangatnya sudah terasa — warga desa, utamanya ibu-ibu dan pemuda, belajar bukan hanya memelihara ikan tetapi juga memahami siklus produksi, perawatan, dan pemasaran sederhana.
Hj. Sri Subekti: Notaris, Pemimpin Komunitas, Sosok Inspiratif
Profil Singkat
-
Nama & Profesi: Hj. Sri Subekti, S.H., seorang notaris & PPAT dengan kantor di Denpasar, Bali, beralamat di Jl. Tukad Yeh Aya No. 98 I, Panjer.
-
Pendidikan: Ada informasi di media sosial bahwa beliau pernah menuntut ilmu di Universitas Sumatra Utara dalam “Program Spesialis Notariat.”
-
Organisasi dan Kepemimpinan: Ketua PW Perempuan ICMI Provinsi Bali, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, edukatif, keagamaan dan pemberdayaan perempuan. Beberapa kegiatan yang pernah beliau pimpin termasuk Kajian Inspiratif Muslimah, acara kombinasikan edukasi dan kepemimpinan, serta dukungan terhadap anak-anak berbakat dan pendidikan alternatif.
-
Jejak Sosial: Keterlibatan beliau tidak hanya dalam lembaga hukum dan organisasi perempuan, tetapi juga dalam program-program komunitas yang menyentuh aspek pendidikan, akhlak, kesejahteraan sosial dan pengembangan kapasitas masyarakat desa dan ibu-ibu.
Nama & Profesi: Hj. Sri Subekti, S.H., seorang notaris & PPAT dengan kantor di Denpasar, Bali, beralamat di Jl. Tukad Yeh Aya No. 98 I, Panjer.
Pendidikan: Ada informasi di media sosial bahwa beliau pernah menuntut ilmu di Universitas Sumatra Utara dalam “Program Spesialis Notariat.”
Organisasi dan Kepemimpinan: Ketua PW Perempuan ICMI Provinsi Bali, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, edukatif, keagamaan dan pemberdayaan perempuan. Beberapa kegiatan yang pernah beliau pimpin termasuk Kajian Inspiratif Muslimah, acara kombinasikan edukasi dan kepemimpinan, serta dukungan terhadap anak-anak berbakat dan pendidikan alternatif.
Jejak Sosial: Keterlibatan beliau tidak hanya dalam lembaga hukum dan organisasi perempuan, tetapi juga dalam program-program komunitas yang menyentuh aspek pendidikan, akhlak, kesejahteraan sosial dan pengembangan kapasitas masyarakat desa dan ibu-ibu.
Sri Subekti dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan dan masyarakat bawah. Kepemimpinannya dalam ICMI Perempuan Bali menekankan nilai mandiri, berakhlak, cendekia, dan tangguh, sebagaimana terlihat dalam berbagai kajian, pelatihan, dan kegiatan sosial. Prinsipnya adalah bahwa bantuan tidak cukup jika hanya diberikan: pendampingan, edukasi, dan keberlanjutan harus menyertainya. Ini tercermin pula dari keputusan bantuan budikdamber yang bersifat prototipe duluan — sebagai bentuk tanggung jawab agar tidak menimbulkan ketergantungan atau kegagalan di tengah jalan.
Manfaat dan Tantangan Program
-
Manfaat:
-
Sumber protein murah bagi keluarga desa;
-
Peluang ekonomi kecil melalui panen dan penjualan lele;
-
Peningkatan kemandirian, terutama bagi perempuan desa;
-
Transfer ilmu praktis (budidaya, manajemen air) yang bisa menjadi kerangka usaha mikro.
-
Tantangan:
-
Pemeliharaan embel-ember prototipe — pengaturan suhu, ventilasi, kualitas air, penyakit ikan;
-
Ketersediaan pakan dan biaya operasional pasca prototipe;
-
Distribusi dan akses ke pasar untuk menjual lele;
-
Motivasi dan konsistensi masyarakat dalam merawat dari awal hingga panen.
Manfaat:
-
Sumber protein murah bagi keluarga desa;
-
Peluang ekonomi kecil melalui panen dan penjualan lele;
-
Peningkatan kemandirian, terutama bagi perempuan desa;
-
Transfer ilmu praktis (budidaya, manajemen air) yang bisa menjadi kerangka usaha mikro.
Tantangan:
-
Pemeliharaan embel-ember prototipe — pengaturan suhu, ventilasi, kualitas air, penyakit ikan;
-
Ketersediaan pakan dan biaya operasional pasca prototipe;
-
Distribusi dan akses ke pasar untuk menjual lele;
-
Motivasi dan konsistensi masyarakat dalam merawat dari awal hingga panen.
Harapan Ke Depan
Hj. Sri Subekti berharap bahwa setelah uji prototipe berjalan lancar, akan datang bantuan penuh — dalam bentuk ember tambahan, bibit skala lebih besar, fasilitas pendukung, dan juga akses ke pasar serta pelatihan pemasaran. Desa juga diharapkan menjadi model percontohan (desa model), yang kemudian dapat direplikasikan ke desa-desa sekitarnya.
“Apa yang kita mulai hari ini mungkin kecil, tapi bila dirawat sungguh-sungguh, akan menjadi akar yang kuat sekaligus pohon yang rindang,” demikian ujarnya dengan keyakinan bahwa desa bisa lebih dari sekadar lokasi; desa bisa menjadi episentrum perubahan yang tumbuh dari bawah.



