Di Antara Shaf dan Sujud: Tarian Silaturahmi dari Denpasar
Di Antara Shaf dan Sujud: Tarian Silaturahmi dari Denpasar
DENPASAR – Sabtu pagi, langit Denpasar masih menata cahaya. Embun terakhir belum benar-benar menguap, namun halaman Mushala KH. Ahmad Dahlan telah ramai oleh langkah-langkah yang membawa rindu dan niat baik. Di sanalah mereka berkumpul: para guru, kepala sekolah, para pimpinan dan pelayan persyarikatan Muhammadiyah dari seantero Denpasar. Ada yang datang dengan senyum, ada yang membawa peluk diam.
Hari itu, bukan sekadar hari. Ia adalah panggung silaturahmi. Sebuah tari gerak jiwa yang disebut: Halal Bihalal.
Digelar oleh Majelis Tabligh dan Majelis Dikdasmen PDM Denpasar, acara ini bukan hanya rutinitas pasca Idul Fitri. Ia adalah pengingat bahwa gerakan Muhammadiyah bukan sekadar struktur, melainkan rasa yang menyatu dalam gerak bersama. Di ruang kecil mushala itu, bukan hanya tangan yang saling menyentuh. Tapi juga harapan, pesan, dan ikrar tak terdengar.
Dalam sambutannya, seorang tokoh dari Majelis Dikdasmen PDM Kota Denpasar, mewakili Ketua Dikdasmen Bapak Supardiono, menyerukan hal yang terdengar sederhana tapi sarat makna: berbenah bersama demi kemajuan sekolah.
“Mari kita mulai dengan etika, adab, dan akhlak. Karena dari sanalah cahaya pendidikan Muhammadiyah harus bersinar,” ujarnya. Kalimat itu seperti sendok pertama dari semangkuk harapan yang akan terus kita seruput bersama, pelan-pelan, sampai hangatnya mencapai hati.
Di antara untaian kata, hadir pula suara dari Chasanudin, S.Pd, bendahara PDM Kota Denpasar, yang menegaskan pentingnya kebersamaan.
“Pertemuan seperti ini, seperti benang pengikat sajadah. Tanpanya, kita hanya potongan-potongan yang tercecer. Dengan silaturahmi, kita kuat. Kita utuh.”
Hasan—begitu ia biasa disapa—bicara tentang sinergi sekolah, saling bantu, saling isi. Ia bicara tentang guru yang sejahtera, pegawai yang bekerja dengan bahagia, dan dari situ, Muhammadiyah yang semakin nyata wajahnya di tengah masyarakat. Sederhana tapi menggetarkan. Karena seperti kata orang tua, kerja yang tulus selalu menemukan jalannya.
Dan kemudian naik ke mimbar utama, Dr. Masruhan, M.Si, bukan hanya sebagai ulama, tapi juga penari kata yang lihai memainkan irama pesan dan nasihat. Ia membuka dengan empat pilar moderasi agama: wawasan kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan kearifan lokal.
“Gerakan kita bukan hanya soal dokumen dan rapat. Tapi bagaimana kita rapatkan shaf dalam jiwa. Jangan biarkan kita menjadi jamaah yang renggang. Karena dari renggang itulah masuk godaan perpecahan.”
Tauziahnya meluas, menjelajah dari tauhid ke tafsir gerakan. Ia bicara tentang keimanan yang harus menggerakkan, bukan mendiamkan. Karena iman tanpa aksi adalah seperti adzan tanpa shalat—terdengar, tapi tak membumi.
“Jangan ada warga Muhammadiyah yang berdemo karena kecewa. Kita punya cara, kita punya tradisi. Kita punya adab dalam menyampaikan rasa. Itu bedanya kita dengan yang lain.”
Kata-katanya mengalir deras, tapi tak pernah menggurui. Ia mengajak, bukan menyuruh. Ia menuntun, bukan menunjuk.
“Kalau kau beriman tapi tak mau bergerak, maka tanyakanlah kembali pada hatimu: apakah itu benar iman, atau hanya baju yang kau kenakan sesaat di hari Jumat?”
Akhirnya, semua tumpah pada satu momen yang tak pernah gagal menyatukan: salam-salaman dan makan bersama. Di lantai tiga SMK Muhammadiyah Denpasar, tangan-tangan saling meraih. Tak ada jabatan, tak ada perbedaan. Yang ada hanya maaf dan tawa, sambal dan sayur, cerita dan canda.
Karena memang begitulah cara Muhammadiyah menari: bukan dengan sorotan lampu, tapi dalam cahaya kebersamaan yang tak silau namun menyala.
Dan di hari itu, Mushala Ahmad Dahlan bukan hanya tempat ibadah. Ia menjadi dapur ukhuwah, tempat di mana hati dimasak bersama, agar cita rasa persaudaraan terus bertahan, bahkan di tengah dunia yang semakin asin.( Raden Alit)



