Detail Artikel

Ember Prototipe, Harapan Permanen: Hj. Sri Subekti Luncurkan Budikdamber Desa

Ember Prototipe, Harapan Permanen: Hj. Sri Subekti Luncurkan Budikdamber Desa

Desa yang dulu hanya dikenal lewat jalan kampung berdebu dan sawah terbentang, kini menyaksikan sebuah perubahan kecil yang bisa berbuah besar. Di sebuah pendopo desa, ember plastik besar dipenuhi air jernih dan bibit lele berenang lincah — bukan sebagai atraksi sesaat, melainkan prototipe sebuah visi desa mandiri. Inisiatif ini diprakarsai oleh notaris ternama di Bali, Hj. Sri Subekti, S.H., penggagas acara dan pewujud hibah prototipe budikdamber untuk masyarakat desa tersebut.

Prototipe Sebagai Langkah Awal

Dalam pelatihan budidaya ikan lele menggunakan ember plastik besar, Hj. Sri Subekti menegaskan bahwa ember dan bibit yang diberikan kini belum dalam skala penuh bantuan, melainkan sebagai prototipe awal.

“Ini sumbangan awal agar masyarakat desa bisa mempelajari metode, merasakan proses, memahami tantangan dan potensi budidaya ini. Bantuan penuh akan menyusul setelah evaluasi dan kesiapan,” ungkapnya kepada komunitas dan peserta pelatihan.

Prototipe ini meliputi beberapa ember besar, bibit ikan lele, pakan dasar, serta pelatihan teknis mengenai pemeliharaan, kualitas air, pembersihan, dan panen. Meskipun dalam skala kecil, semangatnya sudah terasa — warga desa, utamanya ibu-ibu dan pemuda, belajar bukan hanya memelihara ikan tetapi juga memahami siklus produksi, perawatan, dan pemasaran sederhana.

Hj. Sri Subekti: Notaris, Pemimpin Komunitas, Sosok Inspiratif

Hj. Sri Subekti, S.H. dikenal luas di Bali sebagai seorang notaris dan PPAT berpengalaman. Selain kiprah profesionalnya, ia juga aktif sebagai Ketua Perempuan ICMI Bali, sebuah wadah cendekiawan muslimah yang mendorong lahirnya perempuan desa tangguh, berakhlak, mandiri, dan cendekia.

Pendidikan hukumnya ia tempuh hingga ke jenjang spesialis notariat, yang kemudian menjadi dasar pengabdiannya di dunia hukum dan masyarakat. Di luar profesinya, ia sering tampil sebagai narasumber dalam kajian muslimah, kegiatan sosial, serta berbagai program pemberdayaan desa.

Reputasi Sri Subekti dibangun di atas prinsip bahwa bantuan tidak cukup hanya dengan memberi: pendampingan, edukasi, dan keberlanjutan harus menyertainya. Hal ini pula yang terlihat dalam strategi budikdamber desa — dimulai dari prototipe, diuji coba, lalu dikembangkan setelah terbukti berjalan.

Manfaat dan Tantangan Program

  • Manfaat:

    1. Sumber protein murah bagi keluarga desa;

    2. Peluang ekonomi kecil melalui panen dan penjualan lele;

    3. Peningkatan kemandirian, terutama bagi perempuan desa;

    4. Transfer ilmu praktis (budidaya, manajemen air) yang bisa menjadi kerangka usaha mikro.

  • Tantangan:

    1. Pemeliharaan ember prototipe — pengaturan suhu, ventilasi, kualitas air, penyakit ikan;

    2. Ketersediaan pakan dan biaya operasional pasca prototipe;

    3. Distribusi dan akses ke pasar untuk menjual lele;

    4. Motivasi dan konsistensi masyarakat dalam merawat dari awal hingga panen.

Harapan ke Depan

Hj. Sri Subekti berharap bahwa setelah uji prototipe berjalan lancar, akan datang bantuan penuh — berupa ember tambahan, bibit skala lebih besar, fasilitas pendukung, dan juga akses ke pasar serta pelatihan pemasaran. Desa juga diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi ke desa-desa lain di Bali.

“Apa yang kita mulai hari ini mungkin kecil, tapi bila dirawat sungguh-sungguh, akan menjadi akar yang kuat sekaligus pohon yang rindang,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Penutup

Dari sebuah ember sederhana, warga desa belajar bahwa pembangunan bisa tumbuh dari hal-hal kecil. Dengan sentuhan visi Hj. Sri Subekti, budikdamber bukan sekadar program pertanian rumah tangga, melainkan sebuah simbol — bagaimana ilmu, hukum, dan kepedulian bisa 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'