Detail Artikel

FPSI Gelar Rapat Konsolidasi: Tegaskan Komitmen Pembangunan Museum dan Balai Manasik Haji di Bali Denpasar,

FPSI Gelar Rapat Konsolidasi: Tegaskan Komitmen Pembangunan Museum dan Balai Manasik Haji di Bali

Denpasar, 12 Juli 2025

Dalam semangat mempererat silaturahmi dan memperkuat arah perjuangan kelembagaan, Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) menggelar rapat konsolidasi kepengurusan pada Sabtu, 12 Juli 2025, pukul 14.00 WITA, bertempat di Ruang Rektor ITB STIKOM Bali.

Rapat dibuka oleh Sekretaris FPSI, H. Yusron Hasani, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua FPSI, H. Imam Asrori. Turut hadir sejumlah pengurus inti, antara lain H. Dadang, H. Ujang, H. Henk, Mas Raden Alit, H. Rochtri, H. Olih, H. Yusron, dan H. Hud Muhammad.


1. Restrukturisasi Dewan Pembina

Rapat diawali dengan doa dan penghormatan atas wafatnya Ketua Dewan Pembina sebelumnya, H. Taufik As’adi. Sebagai tindak lanjut, rapat memutuskan penunjukan Dr. Dadang sebagai Ketua Dewan Pembina yang baru. Susunan Dewan Pembina kini terdiri dari Dr. Dadang, H. Jayadi Jaya, dan H. Suprio Guntoro. Jumlah ini disesuaikan dari lima menjadi tiga orang, dan akan berlaku hingga ada pembaruan struktur kepengurusan berikutnya.


2. Perubahan Nama Museum: Penyesuaian Usulan BPKH Pusat

FPSI melaporkan hasil audiensi dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Pusat, yang menyambut baik rencana pembangunan museum dan berencana melakukan kunjungan langsung ke Bali. Dalam pertemuan tersebut, BPKH menyatakan hanya bisa mendukung pembangunan satu gedung utama, sementara fasilitas pendukung lainnya harus dibangun secara mandiri.

Sebagai respons, rapat menyepakati perubahan nama dan konsep museum menjadi “Pusat Penelitian dan Balai Manasik Haji Bali Harmoni”. Usulan ini diajukan oleh H. Ujang dan didukung penuh oleh peserta rapat, termasuk Dr. Dadang, H. Henk, H. Hud, dan H. Olih. Penambahan nama “Balai Manasik Haji” dipandang penting untuk memperkuat legitimasi dukungan BPKH sekaligus memperluas fungsi dan cakupan layanan.


3. Literasi Sejarah: Distribusi Buku & Rencana Ensiklopedi

Dalam rangka penghormatan terhadap almarhum H. Suprio Guntoro, FPSI berkomitmen untuk mendistribusikan buku “Suara Umat” ke masjid-masjid di seluruh Bali. Buku ini dianggap sebagai karya ilmiah-sastra yang bernilai tinggi dan relevan dalam mendukung misi pendirian museum serta pelestarian intelektual Islam.

Lebih jauh, FPSI juga menggagas penyusunan Ensiklopedi Sejarah Kampung Islam di Bali, sebagai langkah konkret dokumentasi sejarah lokal umat Islam. H. Yusron menegaskan bahwa proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya menjaga dan memajukan narasi sejarah Islam di Pulau Dewata.


4. Strategi Lembaga: Fokus Pendidikan, Media, dan Legalitas

Dr. Dadang menekankan pentingnya menjadikan FPSI sebagai lokomotif perjuangan umat, terutama dalam bidang pendidikan dan media. Beliau juga menyoroti perlunya penguatan legalitas museum melalui proses notarisasi agar posisi hukumnya semakin kuat dan terpercaya di masa mendatang.

Sementara itu, H. Hud melaporkan bahwa pengelolaan wakaf tanah telah berjalan lancar dengan dukungan dari Raja Klungkung, yang telah mengeluarkan titah resmi. Percetakan buku Suara Umat juga akan ditangani langsung oleh FPSI dengan dukungan para dermawan.

H. Henk menilai bahwa penambahan nama Balai Manasik Haji lebih representatif terhadap kebutuhan umat saat ini, sedangkan H. Ujang menyatakan bahwa penyebutan tersebut menjadi dasar kuat bagi BPKH untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembangunan.


Penutup

Rapat konsolidasi ini ditutup dengan semangat persatuan dan tekad bersama untuk menjadikan FPSI sebagai pilar utama pembangunan peradaban Islam di Bali, melalui jalan sejarah, literasi, dan pelayanan umat.

FPSI menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan Pusat Penelitian dan Balai Manasik Haji Bali Harmoni sebagai ikon keislaman yang berakar kuat pada nilai sejarah dan semangat kebersamaan.(Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'