Gempa M5,8 Guncang Poso: Puluhan Luka, Doa Mengalir dari Seluruh Nusantara
Gempa M5,8 Guncang Poso: Puluhan Luka, Doa Mengalir dari Seluruh Nusantara
Poso, Sulawesi Tengah – Getaran kuat kembali mengguncang hati masyarakat Sulawesi Tengah. Pada Minggu (17/8/2025), tepat di hari bangsa memperingati HUT ke-80 RI, gempa bermagnitudo 5,8 melanda lepas pantai Poso. Walau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada potensi tsunami, namun duka mendalam tetap hadir: sedikitnya 29 orang dilaporkan terluka, sebagian di antaranya dalam kondisi kritis.
Guncangan yang terjadi sekitar pukul 15.20 WITA itu membuat warga berhamburan keluar dari rumah dan tempat ibadah. Di sebuah gereja, suasana doa berubah menjadi kepanikan saat plafon runtuh, melukai jemaat yang sedang beribadah sore. Jeritan bercampur doa terdengar bersahutan.
“Kami baru saja menyanyikan pujian ketika lantai berguncang keras. Lampu bergoyang, lalu plafon jatuh. Banyak yang menjerit, saling menolong, saling mengangkat tubuh yang luka,” tutur Yohana, salah seorang jemaat yang selamat dengan luka ringan di tangannya.
Tim medis dari RSUD Poso langsung bergegas. Dengan fasilitas terbatas, mereka berjuang menangani korban luka kepala, patah tulang, dan syok berat. Palang Merah Indonesia (PMI) juga mendirikan tenda darurat di halaman rumah sakit untuk menampung korban yang terus berdatangan.
Rasa Luka di Tengah Hari Kemerdekaan
Ironisnya, bencana ini terjadi di hari ketika rakyat Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan. Alih-alih dirayakan dengan karnaval dan lomba rakyat, sebagian warga Poso justru harus berjuang menyelamatkan nyawa orang-orang tercinta.
“Di hari kemerdekaan, kami kembali diingatkan bahwa kemerdekaan sejati adalah selamatnya nyawa dan terjaganya persaudaraan,” kata Bupati Poso, dalam pernyataan singkat penuh keharuan.
Pemerintah dan Relawan Bergerak
BNPB dan TNI-Polri sudah diterjunkan untuk mengevakuasi warga yang rumahnya rusak dan memberikan dukungan logistik. Bantuan darurat berupa makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan tengah disalurkan. Pemerintah daerah mengimbau warga tetap waspada terhadap gempa susulan.
Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya menyampaikan belasungkawa, “Di tengah peringatan kemerdekaan ini, kita ikut merasakan duka saudara-saudara kita di Poso. Mari bahu-membahu, jangan biarkan mereka merasa sendirian.”
Doa dan Solidaritas
Di media sosial, doa mengalir deras dengan tanda pagar #PrayForPoso. Dari Medan hingga Merauke, masyarakat Indonesia mengirim pesan empati, doa, dan tawaran bantuan. Sejumlah komunitas mahasiswa di Makassar dan Palu bahkan langsung membuka posko donasi untuk korban gempa.
Gempa boleh saja mengguncang tanah, namun rasa kemanusiaan selalu menguatkan pijakan. Hari ini, Sulawesi Tengah menangis, tapi seluruh Indonesia menunduk mendoakan. (RAYD)



