Detail Artikel

Indonesia Kukuh Perangi Korupsi dan Kartel Pangan: Prabowo Umumkan Penyelamatan Rp300 Triliun Lebih

Indonesia Kukuh Perangi Korupsi dan Kartel Pangan: Prabowo Umumkan Penyelamatan Rp300 Triliun Lebi

Jakarta, 18 Agustus 2025 (AP News) –

Di tengah semangat peringatan Hari Kemerdekaan ke-80, Presiden Prabowo Subianto menegaskan tekad Indonesia untuk tidak memberi ruang bagi korupsi dan kartel pangan yang selama ini mencengkram denyut hidup masyarakat. Dengan suara tegas, ia mengumumkan bahwa pemerintah berhasil menyelamatkan anggaran negara senilai US$18,5 miliar (setara lebih dari Rp300 triliun) dari potensi kebocoran yang nyaris menjadi darah segar bagi praktik mafia birokrasi dan kelompok dagang serakah.

“Korupsi adalah pengkhianatan terhadap rakyat. Begitu pula kartel pangan, yang membuat ibu-ibu di pasar harus meneteskan air mata karena harga beras dan cabai dikendalikan oleh segelintir orang. Ini tidak boleh lagi terjadi,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya di Istana Negara, Senin (18/8).

Serakahnomics vs. Ekonomi Rakyat

Langkah besar ini, menurut Prabowo, dicapai melalui pemangkasan belanja perjalanan dinas, penghematan anggaran perkantoran, serta penataan ulang distribusi pangan. Fokus utamanya adalah memutus rantai "serakahnomics"—istilah yang ia gunakan untuk menyebut praktik ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir elit, sementara rakyat banyak dibiarkan lapar.

Kartel pangan disebut sebagai salah satu penyakit lama Indonesia: harga beras melonjak saat panen melimpah, bawang putih mendadak langka meski stok penuh, daging sapi terkerek tinggi karena jalur distribusi dikunci mafia impor. “Kedaulatan pangan bukan hanya soal beras, tapi soal harga yang adil, pasar yang bersih, dan keberanian pemerintah melawan kongsi tamak yang bermain di belakang layar,” tambah Prabowo.

Suara Rakyat Kecil

Di Pasar Senen, Jakarta, Siti (45), seorang pedagang sayur, mengaku lega dengan langkah pemerintah. “Kalau benar kartel diberantas, kami bisa jual dengan harga wajar. Selama ini kami ikut saja permainan harga dari atas, tapi yang kena maki pembeli ya kami, bukan mafia,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Para ekonom juga menilai penyelamatan anggaran ini bukan hanya soal angka, tapi soal arah moral bangsa. “Jika US$18,5 miliar bisa diselamatkan, itu artinya ada ruang untuk membangun sekolah baru, rumah sakit di desa, dan irigasi untuk petani. Uang negara kembali ke rakyat, bukan ke kantong koruptor,” ujar Bhima Yudhistira, pengamat ekonomi dari CELIOS.

Indonesia dan Panggung Dunia

Di mata dunia, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia di bawah Prabowo tidak ragu menantang kekuatan lama—baik di birokrasi maupun kongsi dagang internasional. Sebagai negara G20 dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, keberanian Indonesia mengikis kartel pangan akan menjadi ujian sekaligus inspirasi bagi negara lain yang menghadapi masalah serupa.

Prabowo menutup pidatonya dengan nada penuh keyakinan:

“Perjuangan bangsa ini belum selesai. Kita pernah melawan kolonialisme fisik. Kini, kita melawan kolonialisme rakus yang bersembunyi di balik meja perundingan dan angka-angka distribusi. Rakyat tidak boleh kalah.”

Dengan langkah ini, Indonesia mencoba membuktikan bahwa perang melawan korupsi dan kartel bukan sekadar jargon, melainkan upaya nyata untuk memastikan nasi di meja rakyat tetap ada, dengan harga yang adil, tanpa rasa getir dari permainan mafia.(RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'