Kala Air Menyapa, Kasih Tergerak: Santunan Bencana dan Tiada Henti Perbuatan Baik”
Kala Air Menyapa, Kasih Tergerak: Santunan Bencana dan Tiada Henti Perbuatan Baik”
Denpasar — Di tengah gema budaya dan estetika warna kain tenun dalam Sarasehan Budaya, hadir pula gema lain: suara kepedulian. Ibu Dr. Farida, Ketua ICMI Orwil Bali, menyampaikan dengan nada lembut namun tegas bahwa budaya tidak hanya soal keindahan yang tampak, tetapi juga tentang tanggung jawab atas sesama kala derita datang.
Kolaborasi Empati Lewat Santunan & Dapur Umum
Talitha Group yang dipimpin oleh Prof. Nuryanto bersinergi dengan lembaga-lembaga umat yang tangkas bergerak: LAZISMI bekerja sama dengan Lantip Indonesia Orwil Bali, Wanita Islam, dan MT IPHI. Ketua LAZISMI, H. Imam; Ketua Lantip, H. Henk Kusumawardhani; Ketua Wanita Islam Ari Widiastuti; serta Ibu Dewi Sinaryati mewakili MT IPHI, bersama-sama tak sekadar merencanakan, melainkan menyalurkan bantuan nyata untuk korban banjir dan mereka yang terdampak.
Dompet Dhuafa, di bawah pimpinan Fadil— yang juga aktif sebagai pemuda ICMI Orwil Bali — ikut ambil bagian. Bantuan moral dan materiil disiapkan.
Posko & Titik Solidaritas
Diberitakan bahwa posko bersama LAZISMI diresmikan di Jalan Yos Sudarso No. 4, sebagai pusat pengumpulan bantuan dan konsolidasi relawan. Sementara itu, Dompet Dhuafa Bali membuka posko di Jalan Kampus Ngurah Rai, Gg. Lely No. 4, Penatih, Denpasar Timur sebagai tempat penyaluran bantuan donasi dan logistik bagi mereka yang membutuhkan.
Sambutan Dr. Farida: Dari Duka ke Tindakan Nyata
Di hadapan para undangan dan peserta Sarasehan, Dr. Farida menyampaikan bahwa meskipun Sarasehan adalah panggung budaya, tapi saat ini ada luka yang perlu disentuh. “Di kala banjir merengkuh saudara kita, rasa lapar, rasa dingin, rasa kehilangan — itu tidak bisa kita abaikan. Melalui LazisMi, Dompet Dhuafa, dan semua organisasi yang bekerja sama, kita hadir bukan hanya memberi, tapi mendengarkan dan menguatkan,” ucapnya dengan suara yang menyiratkan keharuan dan harapan.
Dengan langkah nyata: dapur umum, santunan, pos pengungsian – ini bukan sekadar simbol, tetapi janji bahwa sesama harus ditemani, terutama dalam masa paling berat sekalipun.
Makna yang Membayang Setelah Hujan
Santunan dalam acara budaya ini mengajarkan bahwa kepedulian adalah bagian integral dari warisan budaya. Bahwa dalam setiap benang wastra yang dirajut, dalam setiap motif yang diurai, harus ada jiwa yang peka terhadap penderitaan sesama.
Dan bahwa identitas manusia bukan hanya tercermin dalam kain tenun, busana pesta, atau parade budaya — tetapi juga dalam bagaimana kita merespons air yang merobek rumah, hujan yang menenggelamkan, dan jeritan mereka yang tertinggal di balik luka.
Penutup: Harapan dari Lautan Airmata
Sarasehan berakhir bukan dengan tepuk tangan biasa, melainkan dengan komitmen yang menelusup ke dalam hati banyak orang: bahwa budaya yang hidup adalah budaya yang punya rasa. Rasa untuk merangkul, rasa untuk memberi, rasa yang tak pernah habis meskipun hujan tak kunjung reda. (RAYD)



