Lahirnya Griya Lansia di Wajak: Kisah Inspirasi Kepedulian dan Cinta Tanpa Batas
Lahirnya Griya Lansia di Wajak: Kisah Inspirasi Kepedulian dan Cinta Tanpa Batas
Di sebuah sudut Desa Wajak, Kabupaten Malang, terdapat sebuah kisah yang menggugah hati—kisah seorang perempuan bernama Mufakiroh, yang akrab disapa Bu Mufi, bersama sang suami tercinta, Nurhadi. Mereka berdua bukan hanya menjadi saksi, melainkan juga pelaku utama dalam lahirnya sebuah oase kasih sayang bagi para lansia terlantar yang ditinggalkan atau bahkan dibuang oleh keluarganya.
Sebagai seorang PNS kebidanan yang memahami jiwa masyarakat, Bu Mufi memulai perjalanannya dengan mengambil para lansia terlantar dari berbagai lokasi. Dengan sepenuh hati, mereka dirawat, baik secara fisik maupun mental-spiritual, di rumah kecilnya. Pada awalnya, ia merawat beberapa orang, hingga jumlah itu bertambah menjadi puluhan.
Namun, perjuangan itu tidaklah mudah. Penolakan dan cibiran datang, bahkan dari lingkungan terdekat. Tetapi, kekuatan niat, keteguhan hati, dan keyakinan pada ridho Allah SWT membuat pasangan ini tetap bertahan. Kini, kerja keras itu terwujud menjadi Yayasan Husnul Khotimah—lembaga sosial yang diakui secara resmi dengan Sertifikat Menkumham RI.
Griya Lansia yang Mendunia
Berawal dari sebuah rumah sederhana, Griya Lansia kini memiliki fasilitas luar biasa: 40 kamar perawatan dengan berbagai skala, aula pertemuan, guest house, dapur umum, laundry, ratusan kursi roda, dan bahkan 3 unit kendaraan serta ambulans. Yayasan ini menjadi pusat perhatian karena dianggap sebagai lembaga perawatan lansia terbaik dan terlengkap di Asia Tenggara.
Setiap kamar yang dibangun berasal dari wakaf masyarakat, dengan prasasti nama pewakaf sebagai tanda penghormatan. Hingga kini, lebih dari 237 lansia telah dirawat dan dipulangkan kepada Sang Khalik dengan tenang di pemakaman milik yayasan seluas 30 are, hasil wakaf seorang pengusaha dermawan.
Uniknya, Griya Lansia telah menjadi destinasi wisata hati. Banyak orang yang datang membawa bantuan berupa natura atau donasi finansial untuk para lansia. Hiburan dan interaksi dari para relawan muda yang penuh keikhlasan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di sana.
Dari Cibiran Menjadi Kebanggaan
Awalnya, langkah ini dihujani kritik dan cibiran. Namun, kegigihan Bu Mufi membuktikan bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia. Berkat kemajuan media sosial, kisah Griya Lansia menyebar luas. Video, artikel, dan konten-konten inspiratif yang dikelola oleh tim kecil mereka menarik perhatian dan simpati publik.
Kini, Griya Lansia tidak hanya menjadi simbol kasih sayang, tetapi juga bukti nyata bahwa niat baik dan kerja keras mampu menggerakkan hati banyak orang untuk peduli.
Misi Mulia Tim Muhibah
Belum lama ini, sebuah tim bernama Tim Muhibah, yang dikoordinir oleh Ujang Eddy Faizal, melakukan kunjungan ke Griya Lansia. Perjalanan ini menjadi bukti lain bagaimana solidaritas masyarakat dapat menciptakan dampak positif.
Tim yang terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat, seperti KH. Mahrusun Hadiono, KH. Taufik As’adi, dan Ustadz Khairuddin Usman, datang tidak hanya membawa donasi, tetapi juga motivasi dan dukungan moral. Dengan total dana perjalanan Rp5.350.000, mereka memberikan sumbangan finansial kepada Griya Lansia, selain juga membantu operasional yayasan.
Refleksi untuk Kita Semua
Melihat langsung kehidupan di Griya Lansia, para anggota Tim Muhibah menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk membantu sesama. Kisah Bu Mufi dan suaminya adalah pengingat bahwa setiap dari kita dapat berbuat baik sesuai kapasitas masing-masing.
Griya Lansia adalah bukti bahwa cinta, keikhlasan, dan kerja keras dapat mengatasi segala hambatan. Semoga cerita ini memotivasi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama mereka yang sering dilupakan: para lansia yang membutuhkan uluran kasih sayang.
Denpasar, 28 Januari 2025
Ujang Eddy Faizal al Minangkabawi
Koordinator Tim Muhibah



