Detail Artikel

MBC & ITB STIKOM Bali: Sinergi Pendidikan, Ekonomi, dan Pelestarian Budaya untuk Generasi Emas

MBC & ITB STIKOM Bali: Sinergi Pendidikan, Ekonomi, dan Pelestarian Budaya untuk Generasi Emas

Denpasar, Bali — Dalam balutan acara Sarasehan Budaya dan Lomba Fashion Show Tenun Endek Bali yang digelar 14 September 2025 di Art Center, sebuah gagasan besar tentang masa depan bangsa turut mengemuka. Bukan hanya kain endek yang dipertunjukkan dengan keanggunannya, tetapi juga sebuah “jalan baru” pendidikan dan pemberdayaan yang ditawarkan oleh MBC (Mitra Bisnis Ciptakarya), anak perusahaan ITB STIKOM Bali.

Kehadiran presentasi MBC dalam forum budaya ini bukan kebetulan. Sebab, pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari kemandirian ekonomi dan kualitas sumber daya manusia. “Generasi muda harus bisa menjadi penjaga budaya sekaligus motor ekonomi. Itu hanya bisa dicapai bila mereka berpendidikan dan memiliki daya saing global,” ujar Dr. Dadang Hermawan, Rektor ITB STIKOM Bali.

Kuliah Kerja: Jalan Baru Menuju Kemandirian

Melalui platform KuliahKerja.com, MBC menawarkan program Kuliah Kerja ke Jepang, sebuah inovasi pendidikan yang memungkinkan mahasiswa menempuh studi sambil bekerja atau magang di negeri sakura. Fokus utama program ini adalah mahasiswa Diploma III yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Syarat pendaftaran pun dibuat sederhana: cukup biaya komitmen, pemeriksaan kesehatan, serta psikotes dan wawancara. Sisanya, mulai dari kursus bahasa Jepang, pelatihan keterampilan, hingga asrama difasilitasi. Bahkan, beban biaya kuliah tidak langsung ditanggung mahasiswa, melainkan melalui skema talangan dan dukungan sponsor.

“Ini terobosan. Pendidikan tinggi bisa ditempuh tanpa harus menunda kewajiban membantu ekonomi keluarga,” jelas Dr. Dadang Hermawan.

1K1S: Membuka Akses, Merajut Harapan

Inisiatif MBC berjalan seiring dengan dukungan ITB STIKOM Bali terhadap program Gubernur Bali, “Satu Keluarga Satu Sarjana (1K1S)”. Melalui penandatanganan PKS dengan Pemerintah Provinsi Bali pada 29 Juli 2025, STIKOM menjadi bagian dari 28 perguruan tinggi negeri dan swasta yang berkomitmen membuka akses pendidikan.

Pemerintah Provinsi Bali menanggung penuh biaya kuliah hingga delapan semester, biaya hidup bulanan (Rp 1,4 juta untuk Denpasar–Badung dan Rp 1,2 juta untuk Buleleng–Karangasem), serta biaya masuk perguruan tinggi.

“Tidak ada lagi alasan anak Bali berhenti di bangku SMA karena alasan ekonomi,” tegas Dr. Dadang.

Menjaga Endek, Membangun Peradaban

Keterhubungan antara program pendidikan ini dengan acara pelestarian kain endek begitu jelas. Jika endek adalah warisan budaya yang harus dijaga, maka generasi emas Bali adalah “penenunnya” di masa depan. Dengan pendidikan berkualitas, pengalaman global, dan kemampuan ekonomi mandiri, mereka akan memastikan bahwa endek tidak hanya dipajang dalam panggung budaya, tetapi juga diterjemahkan dalam industri kreatif, fashion Muslim global, dan produk berdaya saing tinggi.

Seperti halnya benang demi benang yang dirajut menjadi endek, program MBC dan 1K1S merajut masa depan Bali: mengikat warisan leluhur dengan inovasi modern, menyatukan kemandirian ekonomi dengan keanggunan budaya.

Harapan dan Tantangan ke Depan

Tentu, jalan ini tidak tanpa tantangan. Administrasi, seleksi beasiswa, pengurusan visa magang, hingga sistem pembelajaran daring untuk mahasiswa di luar negeri menjadi pekerjaan rumah. Namun demikian, arah sudah jelas: pendidikan inklusif dan pemberdayaan budaya harus berjalan beriringan.

“Kita ingin generasi muda Bali tidak sekadar menyandang gelar sarjana, tetapi juga lahir dengan pengalaman global, daya juang ekonomi, dan cinta mendalam terhadap budaya lokal,” pungkas Dr. Dadang Hermawan.

Kesimpulan

Sarasehan budaya 14 September 2025 di Art Center Denpasar membuktikan bahwa pelestarian kain endek bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal strategi besar membangun peradaban. ITB STIKOM Bali melalui MBC menawarkan kunci: pendidikan, kerja, dan inovasi. Sementara pemerintah melalui 1K1S membuka pintu lebar-lebar agar semua keluarga Bali memiliki sarjana pertama mereka.

Di panggung yang sama, endek menari bersama model muda. Dan di balik layar, strategi besar pendidikan dirajut. Keduanya bersatu: melestarikan budaya, sekaligus mempersiapkan generasi emas yang siap menenun masa depan Bali dan Indonesia.(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'