MEMADUKAN ILMU DAN RASA: ANALOGI PENDIDIKAN DENGAN DUNIA KULINER
MEMADUKAN ILMU DAN RASA: ANALOGI PENDIDIKAN DENGAN DUNIA KULINER
6 Mei 2025 – Ujian Teori Sekolah Pariwisata Internasional (SPI)
Jl. Merdeka, Renon, Denpasar
Hari ini, Selasa 6 Mei 2025, Sekolah Pariwisata Internasional (SPI) menyelenggarakan ujian teori akhir bagi para mahasiswa sebelum mereka melangkah ke dunia praktik melalui program on-the-job training. Ujian ini merupakan tahapan penting dan terakhir dari proses pembelajaran di kelas, sekaligus menjadi pintu gerbang menuju dunia kerja nyata.
Sebagaimana sebuah masakan, proses pendidikan di SPI dimulai dari pemilihan bahan-bahan terbaik—yakni mahasiswa yang bersemangat, penuh minat, dan siap menyerap ilmu. Setiap pengajaran di kelas ibarat bumbu-bumbu dasar, yang diracik dengan penuh ketelitian oleh para dosen dan pengajar profesional. Teori tentang perhotelan, pariwisata, food and beverage, hingga tata krama dan budaya internasional, semuanya bagaikan rempah-rempah yang memperkaya rasa ilmu di benak mahasiswa.
Sama seperti hidangan nasional dan internasional yang memiliki keunikan rasa, tekstur, dan warna, proses pembelajaran di SPI pun penuh warna. Ada yang ringan dan lembut seperti hidangan continental, namun ada pula yang kompleks dan penuh tantangan seperti masakan nusantara dengan berbagai lapisan rasa. Rasa asam manis menggambarkan dinamika proses belajar—dari suka cita keberhasilan, hingga pelajaran dari kesalahan.
Hari ini, mahasiswa SPI mengikuti ujian dengan penuh tanggung jawab. Mereka tampil rapi, memakai pakaian resmi lengkap dengan dasi dan jas almamater. Ujian berlangsung maksimal untuk 10 mahasiswa per sesi, diawasi oleh dua orang penguji, dan disertai dengan laporan akademik dan presentasi kegiatan training serta hotel tempat pelatihan yang telah dipersiapkan.
Sementara itu, esok harinya mereka akan memasuki fase baru—praktik kerja nyata. Di sanalah mereka akan membuktikan bahwa ilmu dan teori yang telah mereka serap mampu mereka wujudkan dalam bentuk kerja nyata yang profesional, cepat, dan penuh dedikasi. Seperti halnya seorang chef di dapur, mahasiswa akan dihadapkan pada "api" dunia kerja: tekanan, waktu, kualitas, dan kepuasan tamu.
Setelah melalui “proses masak” yang panjang, kini saatnya mereka “disajikan” ke dunia kerja: matang, berbobot, dan siap menyajikan pelayanan terbaik. Sebuah perjalanan panjang dari teori ke praktik, dari dapur kelas ke dapur sesungguhnya. ( Raden Alit)



