Detail Artikel

Meneladani Sifat Nabi, Jalan Menuju Kesempurnaan Iman

Meneladani Sifat Nabi, Jalan Menuju Kesempurnaan Iman

Khutbah Jumat Ustadz Saparudin – Mushola KH Ahmad Dahlan, Denpasar, 22 Agustus 2025

Denpasar – Suasana Mushola KH Ahmad Dahlan, Jalan Batanta 80, Denpasar, terasa khusyuk saat khatib, Ustadz Saparudin, membuka khutbah dengan hamdalah penuh rasa syukur. “Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kehidupan. Maka kewajiban kita adalah saling mengingatkan dalam kebaikan, dalam iman, dan dalam taqwa, sebab itulah tanda kasih sayang sesama Muslim.”

Shalawat dan salam beliau haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok mulia yang dengan perjuangannya kita mengenal makna penghambaan sejati kepada Allah.

Tema: Meneladani Sifat Nabi

Ustadz Saparudin menegaskan bahwa tema khutbah hari ini adalah meneladani sifat Nabi Muhammad SAW. Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa meneladani sifat Nabi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Tidak ada teladan yang lebih sempurna dalam akhlak, ibadah, kesabaran, maupun pengorbanan selain beliau.

Tiga Golongan yang Meneladani Nabi

Khatib kemudian menjelaskan tiga golongan orang yang benar-benar meneladani Nabi Muhammad SAW:

1.Orang yang memiliki iman dan aqidah yang kuat.
Mereka tidak goyah oleh godaan dunia dan fitnah zaman. Keimanannya menjadi perisai, aqidahnya menjadi cahaya. Nabi pernah bersabda bahwa iman itu bisa naik dan turun, maka siapa yang kuat memeliharanya akan kokoh seperti gunung.

2.Orang yang meyakini bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Beliau menegaskan, dunia hanyalah persinggahan singkat. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“…Ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal di sisi Allah itu adalah besar.”
(QS. An-Nur: 15–16)

Ayat ini, kata beliau, mengingatkan bahwa dunia ini penuh fitnah dan godaan, namun orang beriman sadar betul bahwa kehidupan akhiratlah yang kekal.

3.Orang-orang yang senantiasa mengingat Allah di kala sempit maupun lapang.
Khatib mengutip firman Allah:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”
(QS. Ali Imran: 191)

Inilah golongan yang selalu menjadikan Allah pusat kehidupannya. Saat diberi nikmat mereka bersyukur, ketika diuji mereka bersabar, dan dalam semua keadaan mereka tetap ingat kepada Allah.

Harapan Besar Umat

Di akhir khutbah, Ustadz Saparudin mengajak jamaah untuk benar-benar menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. “Meneladani beliau bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam akhlak, kesabaran, dan kasih sayang. Jika itu kita lakukan, kelak kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah di akhirat. Bukankah itu kerinduan terbesar setiap hati yang beriman?”

Dengan suara lembut namun penuh wibawa, beliau menutup khutbah dengan doa agar Allah meneguhkan hati umat Islam, menjadikan mereka generasi yang berpegang pada iman dan taqwa, serta dicatat sebagai umat yang mengikuti jejak sang Nabi. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'