Detail Artikel

Premanisme Dikepruk! Ormas Bermasalah, Jangan Main Api Kalau Tak Mau Kebakar

Premanisme Dikepruk! Ormas Bermasalah, Jangan Main Api Kalau Tak Mau Kebakar 

Seperti soto Betawi yang kuahnya gurih dan penuh rempah, kasus ormas belakangan ini makin terasa "empuk" untuk diangkat ke permukaan. Tapi sayangnya, bukan gurih yang terasa—melainkan pedas, asem, dan bikin perut mules seperti salah santap di warung tak berizin.

Bayangkan, tengah asyik menikmati kerak telor di pinggir jalan, tiba-tiba datang sekelompok orang berseragam tapi bukan aparat, ngatur-ngatur parkir seenaknya, minta jatah dagang, bahkan belakangan… bakar mobil aparat! Lah, ini ormas apa tukang bikin onar rasa jengkol basi?

Tapi, jangan takut, akhirnya negara turun tangan. Bagaikan semur jengkol yang dimasak lama hingga empuk dan wangi, operasi besar-besaran pun dimulai sejak 1 Mei 2025. Tak tanggung-tanggung, 3.326 kasus premanisme disapu bersih. Dari Tangerang yang bikin 85 preman keok, hingga Subang yang 9 orangnya langsung digoreng di wajan hukum. Bahkan Ketua GRIB di Kalteng yang terlalu banyak gaya langsung ditumis pakai aturan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit tampil seperti tukang masak profesional di dapur hukum. Dengan api besar dan alat lengkap, beliau masak habis semua aksi preman berkedok ormas. Dan seperti bumbu gabus pucung yang mantap, Presiden Prabowo pun ikut menabur garam kebijakan: bersihkan!

Tak cukup di situ, Kapolri bilang tegas:“Soal keamanan investasi, serahkan pada kami.”

Kalimat ini ibarat sop iga Betawi: berisi, mantap, dan langsung menghangatkan pasar modal. Investor yang biasanya ogah datang kini mulai mengunyah peluang. Karena apa? Karena mereka suka negara dengan kepastian hukum, bukan kekeruhan kuah hukum.

Masih belum cukup? Ini sambal terasinya:

Kami tidak akan menoleransi intimidasi, pemerasan, atau kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok berkedok organisasi masyarakat.” — Irjen Pol. Sandi Nugroho

Ini bukan lagi peringatan, tapi seperti ketupat sayur yang sudah siap disajikan—tinggal disantap bersama-sama: masyarakat, aparat, dan negara.

Untuk para ormas yang suka nyaru jadi mafia, ini waktunya bertobat. Jangan main api di dapur hukum. Karena kalau gosong, jangan salahkan chef bangsa yang kini sedang serius menyiapkan menu keadilan untuk semua.

Ayo, kita kawal bersama dapur Indonesia agar bersih dari premanisme. Warga tentram, dagangan aman, dan hukum kembali gurih di lidah rakyat.
Seruput kopi pahit, santap soto Betawi, dan nikmati keadilan yang kini kembali hangat di meja bangsa.(Raden Alit) 


ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'