Rakerwil CIDES Bali: Tanggung Jawab Moral dan Semangat Cabe Rawit Halal. Kalifa Nusantara Denpasar, Bali – 19 Januari 2025,
Rakerwil CIDES Bali: Tanggung Jawab Moral dan Semangat Cabe Rawit Halal
Denpasar, Bali – 19 Januari 2025,
Dalam atmosfer penuh semangat di Sekolah Kalifa Nusantara, Denpasar, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) CIDES ICMI Bali sukses digelar dengan tema besar: “Berkhidmat Bersama Ummat, dari Bali untuk NKRI.” Acara ini menjadi momen penting untuk membahas langkah strategis, tanggung jawab moral, dan inovasi berkelanjutan dalam pembangunan daerah.
Dipimpin oleh Dr. Hafidz Muhsin sebagai ketua panitia, acara ini menghadirkan para tokoh masyarakat, akademisi, dan penggerak perubahan dari berbagai latar belakang. “Rakerwil ini bukan sekadar pertemuan, tetapi ibadah yang penuh tanggung jawab untuk masa depan umat dan bangsa,” ujar Dr. Hafidz dalam sambutannya, menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk menciptakan dampak nyata.
Bali: Kecil, Pedas, dan Berani
“Bali ini seperti cabe rawit: kecil, tapi pedas dan berani!” ungkap Prof. Nurianto, Direktur CIDES, dengan semangat yang membakar semangat peserta. Beliau mengingatkan bahwa wilayah kecil seperti Bali memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor inovasi, terutama dalam pengembangan wisata halal, edukasi moral, dan pemberdayaan umat.
Namun, bukan tanpa tantangan. Wisata halal sempat memunculkan pro dan kontra di Bali, mengingat citra kuliner tradisional seperti babi guling yang begitu melekat. “Jika halal ini sulit diterima, mari kita bangun sekolah politik sebagai jalan memperjuangkan nilai-nilai ini,” tambah Prof. Nurianto, yang percaya bahwa kebijakan dapat menjadi alat transformasi terbaik.
5K untuk Bali: Misi Transformasi CIDES
Ir. Hj. Farida Hanom, M.Si, Ketua ICMI Bali, menyampaikan konsep 5K yang menjadi fondasi misi CIDES: Kualitas Iman, Kualitas Pikir, Kualitas Hidup, Kesejahteraan, dan Keberlanjutan. Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa CIDES adalah wadah pakar yang berkomitmen menghadirkan solusi nyata atas isu-isu strategis, seperti stunting, gizi buruk, dan pengaruh media terhadap generasi muda.
“CIDES adalah penerang bangsa di tengah tantangan zaman. Dalam era digital ini, moral dan kebijakan tidak boleh kalah cepat dengan kemajuan teknologi,” katanya, mengingatkan bahwa tanggung jawab moral dan intelektual harus berjalan beriringan.
Doa, Harapan, dan Semangat Baru
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. KH. Abusiri, M.Pd.I, seraya memohon keberkahan dan kesuksesan untuk program-program CIDES ke depan. Doa ini menjadi simbol bahwa perjuangan besar selalu membutuhkan pondasi spiritual yang kokoh.
Di akhir acara, satu pesan utama menjadi benang merah: semangat cabe rawit. Kecil bukan berarti tidak berdaya, dan keterbatasan bukan penghalang untuk melangkah maju. CIDES Bali mengajarkan bahwa perjuangan adalah tentang tanggung jawab moral yang dilandasi tekad baja, meskipun dompet tidak selalu tebal.
Karena, seperti yang mereka yakini, “Bali kecil, tapi dampaknya besar untuk NKRI.” (Sekretaris Panitia)



