Sampah yang Tersesat: Saat Jalanan Kediri–Denpasar Tak Lagi Wangi Dupa, Tapi Aroma Sampah"
Judul: "Sampah yang Tersesat: Saat Jalanan Kediri–Denpasar Tak Lagi Wangi Dupa, Tapi Aroma Sampah"
Oleh: [Chef RAYD)
Denpasar, Bali — Setiap hari, jalur Kediri menuju Denpasar seolah menjadi miniatur dinamika Bali hari ini. Sebuah bentangan jalan yang sesungguhnya bisa menjadi jendela keindahan pulau surga, kini justru menyuguhkan potret ironis: kemacetan yang menggulung sepanjang waktu—dan pemandangan sampah yang “berpose” di pinggir jalan.
Bukan lagi wangi dupa dari pura, atau bunga kamboja yang berserak merdu di jalan, yang menyambut para pengguna jalan. Kini, ketika laju kendaraan melambat, sorotan mata justru tertuju pada tumpukan sampah: teronggok, tercabik, bahkan meluber dari tong-tong warna-warni yang seharusnya menjadi simbol gerakan pilah sampah nasional.
Sampah yang seolah “hidup” ini tampil dengan beragam gaya: ada yang menyembul malu-malu dari balik tong tiga warna—merah, kuning, hijau—mungkin karena sesak dan pengap. Ada juga yang menjulang tinggi, percaya diri menatap pengguna jalan. Di antaranya, anjing-anjing liar berlalu-lalang, mengoyak isi kantong plastik dengan leluasa. Dan ketika hari besar atau upacara adat tiba, onggokan itu seperti “berpesta”, menjulang hingga menyaingi tinggi tong sampahnya sendiri, menyapa para wisatawan dengan aroma yang tentu tidak khas Bali.
Padahal, edukasi telah dilakukan. Sosialisasi tentang pemilahan sampah sudah berjalan. Lantas, apa yang salah?
Mari Kita Bertanya Bukan Menyalahkan
Masalah sampah bukan hanya soal kurangnya pengetahuan, tapi seringkali soal kesadaran dan kebiasaan. Masyarakat Bali, yang selama ini begitu erat dengan nilai-nilai kesucian dan keharmonisan dengan alam, tentu tidak kekurangan pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan. Namun dalam praktik, banyak yang masih terburu-buru, enggan mencari tong sampah yang tepat, atau sekadar terbiasa meletakkan sampah di tempat yang "mudah terlihat"—bahkan di depan pura atau tempat suci.
Sebagai warga, mari kita renungkan: sudahkah kita benar-benar menghormati ruang publik seperti kita menghormati ruang pribadi? Sudahkah kita menjadikan tong sampah sebagai bagian dari estetika, bukan sekadar wadah buangan?
Estetika Bali dalam Tempat Sampah
Bayangkan bila tempat sampah di jalanan utama dibuat dengan desain yang menyatu dengan arsitektur Bali: ornamen ukiran, beratap kecil khas bale, dan ditempatkan di lokasi yang tidak mengganggu pandangan atau arus lalu lintas. Tempat sampah bukan hanya berfungsi, tapi juga mempercantik kota. Bayangkan pula bila tong-tong tersebut diberi nama-nama yang akrab di telinga masyarakat lokal, atau dilengkapi ilustrasi humor ringan yang mengajak tanpa menggurui.
Bukankah kita bangga ketika turis mengagumi bukan hanya pantai dan pura kita, tapi juga kedisiplinan dan kesadaran lingkungan kita?
Ajakan, Bukan Teguran
Mari kita mulai dari yang sederhana:
Buanglah sampah pada tempatnya.
Jangan tumpuk di depan pura atau tempat suci.
Pilah sesuai warna dan jenis.
Jika tong sudah penuh, cari tempat lain—jangan ikut menambah.
Dan untuk pemerintah, pengelola kawasan, serta pelaku usaha: mari hadirkan tempat sampah yang tidak hanya “ada”, tapi juga indah, fungsional, dan menyatu dengan budaya Bali.
Sampah seharusnya tidak mencuri perhatian lebih dari keindahan pura, hijaunya taman kota, atau aroma masakan Bali yang mengundang selera. Mari bersama wujudkan Denpasar yang bersih, elok, dan harum—seperti filosofi hidup masyarakatnya: Tri Hita Karana, harmoni dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Akhiri dengan Tindakan, Bukan Keluhan.
Karena Bali, pulau yang kita cintai ini, layak tampil anggun—dari ujung pantai hingga ke tong sampahnya.



