Detail Artikel

Sewindu Segara Santhi: Harmoni Bali, Merah Putih, dan Nada Angklung di Desa Kelating Tabanan, Bali

Sewindu Segara Santhi: Harmoni Bali, Merah Putih, dan Nada Angklung di Desa Kelating

Tabanan, Bali – Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, berubah menjadi panggung perayaan penuh warna pada Kamis (21/8/2025). Sewindu Segara Santhi bukan sekadar penanda usia delapan tahun komunitas lansia setempat, melainkan juga gema kebersamaan dalam rangka HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari Denpasar, sebuah bus berbalut spanduk bertuliskan “ALBA – Angklung Lansia Bali” melaju gagah membawa rombongan tamu dan tim Lantipda Bali. Dengan dress code merah putih, aksesoris kemerdekaan, serta deretan angklung bambu yang siap dipentaskan, perjalanan itu seakan menjadi prosesi simbolik menuju panggung kebersamaan. Sorak semangat kemerdekaan membuncah di dalam bus, ditingkahi suara tawa para lansia yang tak sabar menampilkan atraksi seni terbaik mereka.


Nuansa Bali yang Kental

Setibanya di Wantilan Desa Kelating, suasana perayaan langsung menyeruak. Janur melengkung indah, paku pipit yang menjuntai, serta hamparan bunga gemitir oranye keemasan menghias setiap sudut ruangan. Dekorasi itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda kentalnya tradisi Bali yang berpadu mesra dengan semangat nasionalisme.

Meja tamu dibungkus kain tridatu kotak-kotak, memberikan nuansa sakral sekaligus elegan. Panitia penyelenggara tampil rapi dengan busana bernuansa merah putih, sementara udeng mereka dihiasi pita Merah Putih sebagai simbol penyatuan budaya Bali dengan semangat kemerdekaan Indonesia.

Tak kalah mencuri perhatian, ibu-ibu lansia mengenakan mahkota unik bertuliskan “89 Indonesia Merdeka”, membuat senyum mereka bersinar bak cahaya kemerdekaan itu sendiri. Hidangan disajikan dengan wadah janur tradisional, menambah sentuhan autentik nan ramah lingkungan. Sedangkan para bapak tampil gagah dalam balutan saput hitam-putih kotak-kotak, menghadirkan aura klasik Bali yang tak lekang oleh waktu.


Nada Angklung dan Tumpeng Sewindu

Acara dibuka dengan khidmat melalui Lagu Indonesia Raya dan Mars Segara Santhi, lalu dilanjutkan pemotongan tumpeng Sewindu sebagai simbol kebersamaan. Momen itu diiringi tepuk tangan riuh para undangan yang memenuhi wantilan.

Tak lama kemudian, alunan angklung dari para lansia Desa Kelating pecah, menampilkan harmoni nada bambu yang berpadu dengan gelora semangat merah putih. Disusul atraksi dari Forum Komunikasi Lansia se-Kecamatan Kerambitan dan kolaborasi tim angklung ALBA Lantipda Bali yang memukau. Setiap denting bambu seolah menggetarkan hati, menyatukan nostalgia masa lalu dengan semangat generasi masa kini.


Apresiasi dan Cinderamata

Puncak acara ditandai dengan pemberian penghargaan kepada lansia paling rajin, lansia inspiratif, serta gerakan menabung sukarela. Momen haru tercipta ketika penyerahan cinderamata dilakukan secara khusus kepada Ketua Lantip Indonesia, Henk, sebagai tanda hormat dan apresiasi atas dedikasi serta perjuangan beliau.

Sorak tepuk tangan meriah menggema, seolah ingin menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya simbol, melainkan ungkapan tulus atas pengabdian dan keteladanan.


Merah Putih di Hati Lansia

Sebelum acara ditutup dengan santap siang bersama, suasana semakin hangat ketika seluruh peserta berfoto bersama, membentuk lautan merah putih yang hidup di tengah dekorasi Bali nan sakral. Janur, gemitir, busana adat, hingga derai tawa lansia, semuanya menyatu menjadi potret kebahagiaan yang sulit diulang.

Acara Sewindu Segara Santhi membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hanya milik generasi muda. Lansia pun mampu mengisi usia senja mereka dengan semangat nasionalisme, seni, dan kebersamaan. Seperti angklung yang tak akan indah bila dimainkan sendiri, demikian pula kehidupan—semakin harmonis bila dijalani bersama.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'