Detail Artikel

SILAKNAS ICMI 2025: Prof. Arief Satria Tekankan Pentingnya Kolaborasi, Inovasi, dan Ketahanan Sosial Bangsa

SILAKNAS ICMI 2025: Prof. Arief Satria Tekankan Pentingnya Kolaborasi, Inovasi, dan Ketahanan Sosial Bangsa


Badung, Bali — 5 Desember 2025.

Suasana khidmat namun penuh optimisme mewarnai Silaturahmi Kerja Nasional (SILAKNAS) ICMI 2025 yang diselenggarakan di Hotel Four Points, Ungasan, Badung, Bali. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh bangsa, jajaran menteri, perwakilan MPR RI, serta tokoh-tokoh nasional, termasuk Prof. Din Syamsuddin, para sesepuh ICMI, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Bali.(RAYD) Open Donasi PT Media Suara Umat BSI 


Gubernur Bali hadir melalui sambutan yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bali, sementara Pangdam dan Kapolda Bali turut memberikan dukungan penuh atas penyelenggaraan SILAKNAS yang menjadi forum strategis bagi kaum cendekiawan Muslim Indonesia.


Presiden RI Prabowo Subianto, yang berhalangan hadir karena agenda kenegaraan, menyampaikan salam hangat kepada seluruh peserta. Dalam catatan penting, Prof. Arief mengingatkan bahwa Prabowo Subianto merupakan salah satu pendiri ICMI pada awal era reformasi, sehingga hubungan emosional dan historis beliau terhadap ICMI sangat kuat.


1. Demokrasi sebagai Fondasi Ekonomi Indonesia


Dalam pidato utama, Prof. Arief Satria, Ketua Umum MPP ICMI, menegaskan bahwa kemampuan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kualitas demokrasi. Menurutnya, sebuah bangsa tidak dapat membangun ekonomi yang kokoh apabila tidak memiliki sistem demokrasi yang berkualitas, stabil, dan mampu memberikan kepercayaan kepada publik.


“Ekonomi ke depan akan bergantung pada kemampuan demokrasi. Demokrasi yang sehat melahirkan kebijakan yang konsisten, stabil, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” tegasnya.


2. Indonesia Masih Perlu Meningkatkan Daya Saing Global


Prof. Arief menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan berat dalam daya saing global. Indonesia tercatat masih berada di urutan 6 di kawasan Asia Tenggara, di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, hingga Korea Selatan.


Contoh sederhana ia sampaikan bahwa proses pemasaran produk dari kota-kota di Indonesia kadang lebih rumit dibanding jika dilakukan melalui negara tetangga. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem produksi, logistik, dan tata kelola ekonomi masih memerlukan reformasi mendalam.


3. Teknologi, PNHP, dan Tantangan Inovasi Nasional


Dalam agenda SILAKNAS ini, Prof. Arief menekankan pentingnya memperkuat Program Nasional Hilirisasi dan Pemberdayaan (PNHP) sebagai pusat inovasi. Namun ia juga mengingatkan bahwa ada hambatan-hambatan yang perlu diperbaiki:


ekosistem inovasi yang belum terintegrasi,


kriminalisasi terhadap inovator,


lemahnya dukungan struktural,


dan kasus-kasus lama yang harus dijadikan pelajaran agar tidak terulang.


PNHP, menurutnya, adalah salah satu instrumen negara untuk mempercepat lahirnya inovator yang berdaya saing global.


4. Dialog Antaragama: Pilar Merawat Kebhinekaan di SILAKNAS 2025


SILAKNAS ICMI 2025 juga menegaskan kembali komitmen organisasi terhadap kerukunan antaragama. Prof. Arief—yang telah lama aktif dalam forum dialog lintas agama, baik nasional maupun internasional—menyatakan bahwa:


“Ketika kita merawat dialog antaragama, kita sedang merawat bangsa. Kebangsaan tidak bisa dibangun tanpa kemanusiaan dan kolaborasi lintas iman.”


ICMI selama ini hadir secara aktif dalam forum-forum internasional dan akan terus memperkuat dialog lintas iman sebagai salah satu kontribusi strategis cendekiawan Indonesia.


5. Peran Masyarakat Pendidikan untuk Kemajuan Desa dan Bangsa


Salah satu pembahasan penting dalam SILAKNAS 2025 adalah peran masyarakat pendidikan dalam pembangunan bangsa. Prof. Arief mencontohkan Korea Selatan yang berhasil membangun industrialisasinya melalui penguatan komunitas desa.


Desa di Indonesia, katanya, harus menjadi:


mitra strategis pembangunan,


pusat inovasi lokal,


dan motor ekonomi baru berbasis potensi daerah.


Masyarakat desa bukan sekadar objek, tetapi harus menjadi subjek pembangunan.


6. Kemiskinan sebagai Masalah Multi-Dimensi


Prof. Arief menekankan kembali bahwa kemiskinan bukan hanya tentang ketiadaan uang, tetapi juga:


kemiskinan literasi,


kemiskinan relasi,


kemiskinan akses,


dan kemiskinan teknologi.


Dengan masih banyak masyarakat pedesaan yang belum memiliki akses teknologi digital, ICMI hadir melalui program-program MPP untuk mendorong literasi teknologi, ekonomi, dan sosial.


7. Gizi, Kualitas Manusia, dan Budaya Hidup Sehat


Dalam konteks kualitas sumber daya manusia nasional, Prof. Arief menyoroti pentingnya budaya makan bergizi dan kebiasaan hidup sehat. Ia mencontohkan Jepang yang sukses membangun generasi kuat melalui:


makanan tinggi gizi (terutama ikan),


budaya disiplin berjalan kaki,


sistem pendidikan yang membudayakan kebersihan dan kemandirian.


Indonesia perlu memperkuat kembali budaya sehat sebagai fondasi bangsa berdaya.


8. Belajar dari Alam dan Kearifan Lokal Nusantara


Prof. Arief mengangkat kisah kearifan lokal seperti sistem SAWE di Lombok, yang mengatur pengelolaan hutan, laut, dan sawah melalui struktur adat:


Mantu atas (hutan),


Mantu laut (laut),


Mantu bumi (sawah).


Nilai-nilai ekologis Nusantara ini relevan bagi pengelolaan sumber daya alam modern, termasuk bagaimana Bali menginspirasi dunia dengan model pengelolaan air, zonasi lingkungan, dan budaya harmoninya.


9. Mengintegrasikan Lokalitas dan Modernitas untuk Masa Depan Indonesia


Prof. Arief menekankan bahwa Indonesia akan maju apabila mampu menggabungkan dua kekuatan besar:


local wisdom (kearifan lokal)


modernity (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi).


Gabungan inilah yang akan membuat Indonesia menjadi negara berkarakter kuat dan berdaya saing tinggi.


10. Penutup: Optimisme Silaknas untuk Indonesia


Menutup sambutannya, Prof. Arief menyampaikan bahwa SILAKNAS ICMI 2025 adalah momentum memperkuat kolaborasi nasional. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat, Pemprov Bali, FKPD, akademisi, dan seluruh anggota ICMI dari berbagai wilayah Indonesia.


“SILAKNAS ini adalah ruang untuk menyempurnakan langkah kita, membangun bangsa dengan ilmu, ketulusan, dan kolaborasi. Semoga ICMI terus menjadi rumah besar cendekiawan yang memberi solusi bagi Indonesia.”

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'