Detail Artikel

Syawalan: Merajut Kekerabatan, Merawat Warisan Leluhur

Syawalan: Merajut Kekerabatan, Merawat Warisan Leluhur

Di desa Bogo, ada tradisi yang terus dijaga turun-temurun,

tradisi yang bukan hanya mempererat persaudaraan Islam,

tapi juga menguatkan tali darah, menyatukan keluarga besar

dalam satu ikatan yang tak tergantikan.

Syawalan, sebuah perayaan penuh makna,

menyatukan sanak saudara yang berasal dari satu leluhur,

mengenang jasa Eyang yang telah menanam benih kebaikan,

dan memanjatkan doa untuk mereka yang telah berpulang.

Di Masjid Baitussalam, jamaah berkumpul,

dalam suka cita dan kebersamaan,

mengucap syukur atas nikmat Allah yang tak terhingga.

Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk diri sendiri,

tapi juga untuk keluarga, anak cucu, dan masyarakat.

Agar keberkahan senantiasa mengalir,

agar kehidupan selalu dilimpahi rahmat dan ridha-Nya.

Hingga akhirnya, kebersamaan ini ditutup dengan simbol berbagi.

Kotak-kotak nasi yang dibawa dari rumah masing-masing,

sesuai jumlah anggota keluarga,

ditukar sebagai tanda saling memberi,

saling berbagi rezeki yang telah Allah limpahkan.

Acara pun ditutup dengan makan bersama,

duduk bersila dalam keakraban,

tertawa, berbagi cerita,

meneguhkan bahwa persaudaraan ini abadi.

Syawalan bukan sekadar acara tahunan,

tapi sebuah warisan yang harus terus dijaga,

agar nilai-nilai kebersamaan tetap hidup,

agar generasi mendatang tetap memahami,

bahwa akar keluarga adalah kekuatan,

dan silaturahmi adalah jalan menuju keberkahan.

Semoga tradisi ini senantiasa lestari,

dan membawa keberkahan bagi kita semua. (Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'